Kesenjangan Antar Musisi

banner 728x90
Bicara tentang musik memang tak ada habisnya. Mulai tahun 70an sampai sekarang entah berapa ribu band yang menjadi idola para penikmat musik.
Ada banyak sekali warna musik dari dulu hingga sekarang, mulai dari pop, metal, klasik, hip-hop, disco, dan masih banyak lainnya.
Di indonesia sendiri ada musik khas yang tak ada di belahan dunia manapun. Ya, musik itu adalah musik dangdut dan keroncong.
Namun, yang akan bahas kali ini bukanlah masalah warna musik atau group musik, kita akan membahas kesenjangan antar musisi.
Ada alasan-alasan yang bisa dicerna oleh akal sehat , mengapa muncul ‘kesenjangan’ di antara sesama generasi musisi.
Baik itu diantara sesama generasi terdahulu [1970’an] maupun hubungannya dengan generasi berikutnya yang ada sampai dengan saat ini.

Seperti yang sering dikatakan oleh banyak orang , di jaman itu kerja kreatif bermusik selalu dimotivasi oleh rasa kebersamaan atau kolektivitas antar kelompok yang ada dilingkungannya masing-masing.
Semisal anak muda kebayoran , menteng atau bahkan anak muda Jakarta , Bandung , Surabaya , Malang dan lainnya yang selalu ingin menampilkan identitas karakter dari wilayahnya masing-masing.
Rasa kebersamaan itulah yang membuat musisi-musisi terikat dalam totalitas kesetiakawanan sosial sehingga mengabaikan berbagai hal2 penting lainnya seperti ‘hak-hak’ individu maupun hak-hak ekonomi yang sesuai dengan peran/fungsi2nya.
Semua problematik dan keberhasilan-keberhasilan yang mampu dicapai dibagi rata alias tijitibeh , tibo siji tibo kabeh atau mati siji mati kabeh.
Ketika modernisasi yang lebih modern hadir dengan membawa temuan2 tehnologi barunya , maka otomatis berpengaruh besar terhadap pemahaman dalam mengelola organisasi / sistim management , dari management tradisional ke yang tidak tradisional lagi.
Itu semua adalah keniscayaan dari sebuah tuntutan perubahan yang tidak bisa dihindari oleh siapa saja , masyarakat mana saja dan bangsa apa saja yang ada dimuka bumi.
Kesalahan-kesalahan yang fatal adalah tidak adanya kesadaran dari suprasturktur [profesi-profesi pemusik] itu sendiri untuk segera berbenah melengkapi kognisinya dengan ilmu2 management berorganisasi yang harus dilengkapi.
Tidak demikian halnya dengan para pelaku industri ekonominya , mereka tanggap dan relatif cekatan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.
Maka yang terjadi kemudian adalah … kaum pedagangnya tambah pintar tetapi musisinya masih senang jongkok-jongkok nongkrong dibalik tempurung kelapa , alias seperti katak dalam tempurung.
Sumber: Netsains
author
Author: 
    Desain Skandinavia – sebuah estetika yang ditandai
    3 Band Rock Terkenal Di Dunia dan Sepanjang Masa
    3 Band Rock Terkenal Di Dunia dan Sepanjang Masa
    Para pecinta musik di tanah air pastinya
    Kisah Alan Walker: Kenyamanan Terbaik!
    Kisah Alan Walker: Kenyamanan Terbaik!
    Opsi Alan Walker Terbaik Scott Fitzgerald Pesta-pesta

    Leave a reply "Kesenjangan Antar Musisi"

    Must read×

    Top